4 Pilar Literasi Digital dan Urgensi Dalam Penerapan Kurikulum Merdeka - Pijar Sekolah %

Email telah dikirim!

Untuk melanjutkan perubahan email silahkan cek email Anda untuk Verifikasi email baru Anda.

Email Baru telah diverifikasi.

Silahkan Login menggunakan Email Baru Anda.

landing page
Informasi Login Demo
ADMIN
Username:sekolahdemopijar@gmail.com
Password:sekolahdemo

GURU
Username:guru1@gmail.com
Password:gurudemo

SISWA
Username:30170521
Password:siswademo

Terima kasih sudah melakukan permintaan demo,
silahkan klik tombol dibawah ini untuk memulai demo

MULAI SEKARANG

Unggah Berkas

Silahkan unggah berkas syarat dan ketentuan
berlangganan yang sudah ditandatangani disini

Format berkas: .doc, .docx, .pdf

Seret dan lepas berkas disini
Atau

Klik disini untuk memilih berkas
Menu Close

4 Pilar Literasi Digital dan Urgensi Dalam Penerapan Kurikulum Merdeka

Guru adalah perawi sejarah masa depan Indonesia. Peran guru sama pentingnya dengan pejabat yang menggerakan roda pemerintahan di Indonesia saat ini.

Kualitas suatu bangsa salah satunya diukur oleh kualitas pendidikan pada suatu negara tersebut.

Pentingnya para guru memahami terkait perannya dalam mendukung salah satu kebijakan pemerintah yang sedang menggalakan konsep Merdeka Belajar.

Konsep yang diberi nama Merdeka Belajar ini diyakini menjadi solusi untuk reformasi sistem pendidikan Indonesia. Melalui Merdeka Belajar, siswa diharapkan menjadi seseorang yang mandiri, berani, pintar bersosialisasi, sopan, beradab, dan berkompetensi.

Merdeka Belajar, Guru Penggerak, Indonesia Maju

Peningkatan kualitas siswa tentunya diiringi peningkatan kualitas tenaga pendidik. Sesuai dengan motto Merdeka Belajar yang digunakan yaitu ‘Merdeka Belajar, Guru Penggerak’, konsep ini juga menuntut inisiatif guru sebagai tangan pertama pemberi materi dan contoh bagi murid.

Saat ini peran teknologi digital menjadi tuntutan di segala aspek kehidupan. Tanpa terkecuali di dunia pendidikan.

Teknologi pada dasarnya perannya membantu” itulah pesan singkat yang disampaikan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nadiem Makarim dalam wawancaranya di talk show salah satu stasiun televisi.

Untuk mendukung transformasi tersebut setidaknya dibutuhkan penguatan literasi digital dalam guru beradaptasi perubahan global ini. Terdapat empat pilar yang membentuk kerangka kerja tersebut kemampuan penggunaan layanan digital (digital skills), beretika dalam ruang digital (digital ethics), keamanan digital (digital safety), dan membangun budaya digital (digital culture).

Berikut penjelasan terkait kebutuhan literasi digital yang harus dikuasai guru di era digital saat ini:

1. Digital Skills

Kemampuan tenaga pendidik untuk melakukan dan menyelesaikan pekerjaan dengan memanfaatkan perangkat digital seperti membuat modul ajar menggunakan aplikasi Canva, membuat video belajar dengan aplikasi Capcut, dan menginput penilaian di platform penilaian Pijar Sekolah.

Tentunya masih banyak beragam pemanfaatan digital lainnya yang membantu tugas guru agar lebih efektif dan efisien.

Dengan keahlian pemanfaatan teknologi digital nantinya para tenaga pendidik akan mempermudah pekerjaan yang awalnya rumit, mempercepat proses pekerjaan, dan efisiensi biaya dan waktu.

Generasi muda saat ini haus akan konten. Seakan berharap bahwa perlu influencer datang dari Guru. Saat ini peran guru bukan hanya mengajar namun dituntut menghadirkan hal kreatif layak seorang content creator atau bahkan Youtuber.

Penguasaan beberapa platform digital akan sangat membantu dalam guru berkreasi dan berinovasi dalam menjalakan kegiatan belajar-mengajar di era baru.

Berikut beberapa software atau platform yang bisa mendukung pebuatan konten dalam kegiatan belajar mengajar:

Aplikasi mendukung pembuatan modul dan konten belajar-mengajar

Baca juga: Cara Membuat Video Pembelajaran Lengkap dan Tidak Membosankan!

2. Digital Culture

Budaya bermedia digital atau beradaptasi dengan perkembangan digital. Seperti apa yang dikatakan mas menteri Nadiem Makarim bahwa teknologi itu perannya membantu, tentunya dengan perlahan mengadopsi aktifitas digital akan menghadirkan efisiensi kegiatan aktivitas sekolah.

Diperlukan kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal dalam kehidupan sehari-hari dalam adaptasi digital..

Contoh sederhana dan mudah dalam kegiatan digital culture satuan pendidikan:

  1. Absensi digital sehingga perhitungan dan rekapitulasi lebih mudah. Tentunya Pijar Sekolah mengakomodir penggunaan tersebut baik untuk absensi siswa dan guru. Berikut tutorial digital absensi siswa.

  2. Chating grup dengan aplikasi pesan instant. Wali kelas membuat group whatsapp merupakan salah satu digital culture yang mudah diterapkan dan memiliki hasil yang efisien dalam kordinasi kebutuhan di sekolah.

  3. Broadcast Pengumuman juga dengan mudah diterapkan dalam lingkungan sekolah. Selain bisa menggunakan aplikasi chatting seperti Whatsapp. Sekolah juga bisa membuat fanpage Facebook sekolah.

    Untuk menyasar seluruh user sekolah seperti guru, siswa, dan orang tua Pijar Sekolah memiliki fitur pengumuman semua user. Operator bisa membuat broadcast pengumuman dengan malampirkan media apapun dan nantinya diterima oleh guru, siswa, dan orang tua.

  4. Input Penilaian juga bisa bisa dilakukan dengan mudah. Tujuannya adalah pengarsipan dan reporting untuk memudahkan pengajar yang nantinya bisa digunakan perhitungan nilai program semester (prosem).

    Apalagi pengajar me nggunakan fitur yang dapat mengkalkulasi penilaian dari tugas, latihan soal, sumatif tengah semester (STS) pengganti PTS, dan sumatif akhir semester (SAS) penggangti PAS pada kurikulum merdeka seperti yang dimiliki oleh fitur penilaian di Pijar Sekolah.

    Baca juga: Panduan lengkap asesmen Pendidikan di Indonesia

Tentunya masih banyak lagi jenis penerapan sederhana dan mudah digital culture di dalam satuan pendidikan.

3. Digital Ethics

Bijak bermedia sosial dan memahami penggunaan layanan digital. Diperlukan kemampuan dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari.

6 hal yang perlu dijaga dalam bermedia sosial.

  1. Jaga informasi yang bersifat pribadi.
  2. Jaga etika berkomunikasi.
  3. Jaga kebijakan memilih teman medsos.
  4. Jaga kebijakan dalam memposting.
  5. Jaga karya seseorang dengan melampirkan sumber postingan.
  6. Jaga kewaspadaan jangan mudah tergiur

Seringkali kita menggunakan software digital hanya dengan klik tombol teruskan atau next tanpa disadari bahwa ada ketentuan yang harus dipatuhi dan disepakati. Membuat konten tanpa melampirkan sumber yang dipercaya maupun original ini juga merupakan etika yang perlu kita jaga dalam aktivitas digital.

4. Digital Safety

Identitas digital user digital (guru dan siswa)  merupakan privasi yang sama pentingnya dengan data pribadi secara konvensional. Konten yang guru buat juga merupakan sebuah karya yang memiliki nilai.

Diperlukan kemampuan setiap ekosistem sekolah termasuk guru dan siswa dalam mengenali, mempolakan, menerapkan, menganalisis, menimbang, mengingatkan kesadaran pelindungan data pribadi dan keamanan digital dalam kehidupan sehari-hari.

Hal yang kecil perlu dilakukan dalam dunia pembelajaran digital adalah dengan mengubah password berkala akun-akun layanan digital Anda. Verifikasi dua langkah email pribadi Anda dengan nomor telpon dan email cadangan juga merupakan salah satu langkah mitigasi dari serangan cyber yang kita tidak dapat mengukur dampak sosial yang bisa terjadi.

Tentu masih banyak lagi hal yang perlu diperhatikan dalam pengamanan berselencar di ruang digital.

Sudah siap menjadi Guru Unggul dengan menguasai 4 Pilar Literasi Digital?

Dengan memahami dan menguasai 4 pilar literasi Digital tentunya akan membantu para pengajar di Indonesia untuk mengarungi kompetisi global dalam bidang pendidikan.

Sebagaimana saat ini Indonesia dalam bonus demografi tentunya dibutuhkan lesatan dalam perubahan yang signifikan.

Pijar Sekolah bersama Telkom Indonesia akan terus berupaya mengingkatkan mutu pendidikan di Indonesia dengan mengoptimalkan guru-guru hebat bersama Pijar Sekolah.

Kami akan mengadakan workshop bertahap mengupas tuntas 4 pilar Digital lebih rinci lagi. Mulai dari pelatihan terkaitan dengan digital skill dan pembelajaran hingga workshop digital safety yang tidak kalah penting dikuasai oleh para tenaga pengajar di Indonesia.

Dari workshop tersebut nantinya diharapkan guru bisa menerapkan serta menyebarkan ilmu dan pemahaman tersebut kepada guru yang lain agar bertumbuh bersama.

Selanjutnya kita akan menghadirkan 3 jenjang sertifikasi berjenjang sebagai bentuk apresiasi Pijar Sekolah dalam kiprah para tenaga pengajar yang berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Berikut jenjang sertifikasi apresiasi Pijar Sekolah kepada para tenaga pengajar yang akan berpartisipasi:

Leveling sertifikasi guru hebat Pijar Sekolah

Ikuti terus blog dan informasi terupdate terkait workshop melalui media sosial dan group komunitas Pijar Sekolah setiap batch Kabupaten terpilih. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *