Email telah dikirim!

Untuk melanjutkan perubahan email silahkan cek email Anda untuk Verifikasi email baru Anda.

Email Baru telah diverifikasi.

Silahkan Login menggunakan Email Baru Anda.

landing page
Informasi Login Demo
ADMIN
Username : sekolahdemopijar@gmail.com
Password : sekolahdemo

GURU
Username : guru1@gmail.com
Password : gurudemo

SISWA
Username : 30170521
Password : siswademo

Terima kasih sudah melakukan permintaan demo,
silahkan klik tombol dibawah ini untuk memulai demo

MULAI SEKARANG

Unggah Berkas

Silahkan unggah berkas syarat dan ketentuan
berlangganan yang sudah ditandatangani disini

Format berkas: .doc, .docx, .pdf

Seret dan lepas berkas disini
Atau

Klik disini untuk memilih berkas
Menu Close

Apa Itu AKM dan Perlukah Memiliki Buku AKM?

buku akm sekolah

AKM – Sudah sejak lama isu penghapusan Ujian Nasional digaungkan. Akhirnya, tahun 2020 kemarin menjadi tahun terakhir diadakannya Ujian Nasional. Bersamaan dengan hal tersebut, sistem AKM mulai diterapkan. Karena itu, banyak siswa yang mulai membeli buku AKM.

Tapi, apa itu AKM? Dan bagaimana fungsi serta keuntungan mengikuti AKM? Melalui artikel ini, Anda akan mendapatkan jawaban dan penjelasan lengkap mengenai AKM.

 

Apa itu AKM dan apa fungsinya?

AKM sekolah adalah singkatan dari Asesmen Kompetensi Minimum sekolah. Yaitu sebuah sistem penilaian yang digunakan untuk menggantikan Ujian Nasional. Sistem ini ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan mulai diberlakukan pada tahun 2020.

Sistem penilaian AKM menitikberatkan pada kemampuan dasar yang diperlukan siswa untuk berkembang. Baik secara pribadi dengan mengembangkan kapasitas diri ataupun secara sosial dengan berpartisipasi secara positif pada masyarakat atau komunitas di sekitarnya.

Apa itu kegiatan AKM?

Dalam praktiknya, ada dua kompetensi mendasar yang diukur melalui AKM. Yaitu kemampuan literasi membaca dan kemampuan literasi matematika atau numerasi.

1. Kemampuan Literasi Membaca

Kemampuan literasi membaca tidak terbatas pada kemampuan siswa dalam membaca teks saja. Tapi juga kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, serta merefleksikan isi bacaan. Sehingga, siswa dapat menerjemahkan bacaan menjadi gagasan baru atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mendukung kemampuan literasi membaca, ada banyak buku latihan yang dapat digunakan. Mulai dari buku AKM SD, SMP, atau pun SMA sesuai kebutuhan. Buku-buku tersebut biasanya memuat soal cerita yang mendukung siswa mengasah kemampuan analisis dan memahami teks tertulis.

2. Kemampuan Literasi Numerasi

Begitu pula dengan kemampuan literasi matematika atau numerasi. Kemampuan ini tidak terbatas pada kemampuan siswa memecahkan soal matematika saja. Tapi juga mencakup kemampuan siswa berpikir dengan menggunakan konsep, prosedur, fakta, serta alat matematika. Sehingga, siswa dapat memecahkan masalah sehari-hari sesuai dengan konteks yang relevan.

Untuk mengasah kemampuan literasi dan numerasi, siswa dapat belajar menggunakan buku AKM. Sayangnya, tidak semua penilaian AKM dapat dicapai melalui latihan soal.

Selain dua kompetensi dasar tersebut, penilaian AKM juga mencakup pembentukan profil pelajar Pancasila, survei karakter, dan survei lingkungan belajar yang membutuhkan persiapan yang berbeda.

3. Profil Pelajar Pancasila

Pembentukan profil pelajar Pancasila adalah bagian dari AKM sekolah SMP dan erat kaitannya dengan budaya sekolah. Karena itu, sekolah perlu menyiapkan serangkaian program untuk mewujudkan hal ini. Ada banyak kegiatan pembentukan profil pelajar Pancasila yang dapat diterapkan oleh sekolah.

Misalnya dengan mengadakan doa bersama sebelum masuk kelas, kegiatan kebersihan lingkungan, upacara bendera, dan lain sebagainya. Sekolah juga dapat mencontoh kegiatan dan program dari sekolah lain. Sehingga, kegiatan yang disusun bisa lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa.

4. Survei Karakter

Penilaian survei karakter mungkin akan lebih jarang ditemukan di buku AKM. Karena, jika dibandingkan penilaian materi, penilaian survei karakter tentu saja lebih sulit diukur. Apalagi jika asesmen yang digunakan adalah asesmen skala besar.

Akan tetapi, survei karakter dapat diterapkan untuk mengetahui pembentukan profil pelajar Pancasila. Baik secara sikap, nilai, atau kebiasaan. Hasil survei karakter AKM sekolah ini nantinya akan membantu sekolah mengetahui tumbuh kembang siswa secara utuh. Baik dari segi kognitif, afektif, maupun spiritual.

5. Survei Lingkungan Belajar

Survei lingkungan belajar dilakukan untuk mengetahui 5 hal penting terkait lingkungan belajar. Yakni kualitas pembelajaran, iklim keamanan dan inklusifitas sekolah, refleksi guru, perbaikan praktik pengajaran, serta latar belakang keluarga peserta didik.

Hasil dari survei lingkungan belajar dapat membantu mengetahui masalah yang dihadapi oleh sekolah. Baik dari pihak guru, kepala sekolah, atau pun dari pihak dinas pendidikan setempat. Sehingga, proses perencanaan dan perbaikan pembelajaran dapat lebih terarah dan sesuai kebutuhan.

 

Apa itu AKM bagi sekolah?

Penghapusan Ujian Nasional ternyata menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian orang tua siswa. Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah berkurangnya kualitas pendidikan di sekolah. Akan tetapi, sebenarnya orang tua tidak perlu khawatir akan hal tersebut.

Maksud AKM sekolah diadakan justru untuk mendorong hadirnya pendidikan yang lebih berkualitas. Bahkan, konsep pembelajaran juga dapat lebih variatif dan menarik bagi siswa. Ada beberapa perubahan yang dapat terjadi jika sistem penilaian AKM mulai diterapkan di sekolah, misalnya:

1. Peningkatan Budaya Akademik Sekolah

Dalam sistem AKM, hasil belajar siswa bukan satu-satunya aspek yang dinilai. Sehingga, meski buku AKM akan cukup membantu, sekolah tetap harus memperhatikan aspek lain di luar pelajaran.

Salah satu aspek penting dalam sistem AKM adalah budaya akademik yang berlaku di sekolah. Sehingga, kepala sekolah dan guru perlu menyiapkan desain pembelajaran yang menarik dan aplikatif. Desain pembelajaran tersebut juga harus mendukung kegiatan literasi, numerasi, dan survei karakter.

Selain diterapkan di dalam kelas melalui penyampaian materi, desain pembelajaran tersebut juga dapat diterapkan di luar kelas. Misalnya dengan membentuk kelompok literasi yang dibina oleh guru sekolah.

2. Sistem Pembelajaran yang Tidak Monoton

Guru tidak dapat mengandalkan buku AKM saja untuk mendapatkan nilai yang baik. Tapi juga harus dipadukan dengan sistem pembelajaran yang variatif dan tidak monoton. Sebagai contoh, guru bisa saja mengadakan pembelajaran di luar kelas. Tentu saja dengan tetap mendorong kemampuan literasi dan numerasi siswa.

Misalnya dengan mengadakan lomba cerdas cermat, kegiatan membaca 15 menit sebelum masuk kelas, lomba menulis puisi, cerpen, atau artikel, dan lain-lain. Sedangkan untuk mendukung kemampuan numerasi, guru dapat membuat kegiatan seperti mengelola anggaran.

3. Mendukung Siswa Berpikir Kritis

Buku AKM SMA mungkin dapat membantu siswa mempelajari soal-soal AKM yang akan muncul. Namun, perangkat pembelajaran seperti RPP dan silabus juga perlu disusun dengan metode yang tepat dan menarik. Sehingga, kemampuan berpikir kritis siswa dapat lebih terasah.

Selain itu, perangkat pembelajaran juga disusun sesuai tingkatan berpikir Taksonomi Blomm. Mulai dari tingkatan C1 hingga C6. Kepala sekolah dan guru juga dapat menyusun program kerja tahunan. Jika diperlukan, pembentukan penanggung jawab program juga dapat dilakukan. Sehingga, program kerja yang sudah disusun dapat berjalan lancar dan sesuai harapan.

 

AKM untuk siswa kelas berapa?

Penerapan AKM secara menyeluruh tentu saja membutuhkan waktu. Sehingga, belum semua jenjang kelas menerapkan AKM sebagai pengganti Ujian Nasional. Saat ini, penerapan AKM masih berupa uji coba untuk beberapa jenjang kelas saja. Yaitu jenjang kelas 5 SD, kelas 8 SMP, dan kelas 11 SMA.

 

Apa keuntungan siswa mengikuti AKM?

Seiring waktu, sistem pendidikan di Indonesia terus melakukan perbaikan. Salah satunya dengan mengganti sistem Ujian Nasional dengan AKM atau Asesmen Nasional. Lalu, apa keuntungan AKM bagi siswa selain tidak adanya ujian?

1. Mampu Mengukur Semua Mata Pelajaran

Saat Ujian Nasional dijalankan, tidak semua mata pelajaran akan diuji. Hanya mata pelajaran utama seperti Matematika, IPA/IPS, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris saja. Sehingga, siswa hanya akan berfokus pada mata pelajaran utama dan cenderung mengabaikan mata pelajaran lainnya.

Sedangkan soal AKM mendukung sistem penilaian yang lebih holistik dan menyeluruh. Dalam latihan soal di buku AKM, siswa akan mendapatkan soal pemahaman literasi dan numerasi.

Selain itu, siswa juga akan mendapatkan soal yang membutuhkan analisis dan pemahaman akan berbagai topik dan keilmuan. Sehingga, siswa terdorong untuk memahami seluruh mata pelajaran secara berimbang.

2. Tidak Menjadi Syarat Seleksi

Penilaian AKM dilakukan untuk mengukur kualitas dan iklim pembelajaran di sekolah. Berbeda dengan hasil Ujian Nasional yang menjadi penentu kelulusan. Sehingga, penggantian UN menjadi AKM justru membantu mengurangi beban siswa secara mental dan pelajaran.

Karena itu, penggunaan buku AKM kelas 8 bertujuan untuk membantu proses belajar siswa. Dengan bantuan buku, siswa bisa lebih memahami materi yang dipelajari. Selain itu, penggunaan buku juga membantu siswa mengasah rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis.

3. Mampu Mengukur Kemampuan Kognitif dan Karakter Siswa

Sistem Ujian Nasional hanya dapat mengukur kemampuan kognitif siswa saja. Sedangkan sistem AKM mencakup penilaian yang lebih luas. Selain menilai kemampuan kognitif siswa, AKM juga membantu mengukur aspek afektif, iklim pembelajaran, hingga karakter siswa.

Karena menilai aspek yang lebih luas, tidak semua buku AKM SMP atau jenjang lainnya mampu memberikan gambaran yang presisi terkait soal asesmen yang akan muncul. Meski begitu, tidak ada salahnya untuk tetap berlatih soal AKM sesuai kebutuhan.

4. Dilaksanakan di Tengah Jenjang Sekolah

Fungsi AKM adalah untuk memberikan gambaran dan umpan balik mengenai proses dan kondisi pembelajaran di sekolah. Karena itu, pelaksanaan AKM dilakukan di tengah jenjang sekolah. Yaitu pada jenjang kelas 5 SD, kelas 8 SMP, dan kelas 11 SMA. Bukan di akhir jenjang seperti penilaian Ujian Nasional.

Karena itu, persiapan asesmen seperti pembahasan soal di buku AKM atau try out dan simulasi akan mulai dilaksanakan. Persiapan ini biasanya akan berlangsung sampai mendekati waktu asesmen.

5. Format Soal Bervariasi

Ujian Nasional memiliki format soal berupa pilihan ganda. Format soal ini lebih menekankan pada kemampuan siswa dalam mengingat dan memahami materi. Sedangkan format soal AKM sekolah dasar atau pun sekolah menengah lebih bervariasi.

Selain dalam format pilihan ganda, buku AKM juga memiliki berbagai bentuk soal lainnya. Seperti format isian singkat, uraian panjang, dan soal menjodohkan. Sehingga, siswa juga perlu memiliki kemampuan analisis, evaluatif, dan pemecahan masalah.

6. Jenis Tes Lowstike

Ujian Nasional disebut juga sebagai tes berjenis highstake karena hasil UN memiliki dampak yang signifikan bagi masa depan siswa. Selain mempengaruhi kelulusan, hasil UN juga menjadi syarat untuk masuk ke jenjang sekolah berikutnya.

Akan tetapi, hasil AKM tidak mempengaruhi kelulusan siswa. Sehingga, konsekuensi yang dihadapi siswa lebih kecil dan tidak berdampak signifikan. Karena itu, penggunaan buku AKM SMP bersifat sebagai latihan dan gambaran bentuk soal asesmen saja.

7. Tingkat Kesulitan Bersifat Adaptif

Keunggulan lain dari penilaian AKM sekolah adalah tingkat kesulitannya yang lebih adaptif. Tingkat kesulitan asesmen akan disesuaikan dengan kemampuan dan pengetahuan siswa. Sedangkan pada Ujian Nasional, seluruh murid akan mendapatkan soal yang sama.

 

Siapa yang memilih siswa AKM?

Tidak semua siswa diwajibkan untuk mengikuti AKM. Hanya beberapa siswa terpilih saja yang akan menjadi peserta AKM. Pemilihan siswa ini tidak dilakukan oleh sekolah, melainkan dipilih langsung oleh Kemendikbudristek.

Pemilihan siswa sendiri dilakukan secara acak berdasarkan stratifikasi sosial ekonomi siswa. Selain itu, siswa yang terpilih adalah siswa yang telah terdaftar dalam pangkalan Dapodik atau Emis. Dengan kata lain, hanya siswa yang memiliki Nomor Induk Sekolah Nasional (NISN) saja yang memiliki kesempatan untuk menjadi siswa AKM.

Meski begitu, setiap siswa sebaiknya melakukan persiapan untuk mengikuti asesmen. Baik persiapan yang difasilitasi sekolah ataupun persiapan mandiri dengan bantuan buku AKM.

 

Apakah AKM wajib diikuti?

Tidak semua siswa diwajibkan mengikuti AKM. Penilaian AKM dilakukan dengan sistem sampel. Artinya, hanya beberapa siswa saja yang akan dipilih untuk mengikuti Asesmen Nasional. Siswa yang dianggap memenuhi kriteria akan dipilih sebagai siswa sampel.

Setiap jenjang pendidikan memiliki jumlah siswa sampel yang berbeda sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jumlah siswa yang mengikuti AKM Sekolah Dasar kelas 5 adalah 30 orang. Sedangkan untuk jenjang SMP dan SMA adalah sebanyak 45 siswa, baik untuk kelas 8 atau pun kelas 11.

Apakah AKM itu penting?

Berbeda dengan Ujian Nasional, hasil AKM tidak memberikan dampak langsung terhadap murid. Meskipun begitu, bukan berarti AKM tidak penting. Secara umum, hasil penilaian AKM akan digunakan untuk pemetaan sekolah. Beberapa pihak juga mengatakan bahwa hasil AKM dapat mempengaruhi rangking dan indeks sekolah.

Karena itu, banyak sekolah yang mengadakan persiapan AKM. Seperti membuat latihan soal berbentuk soal cerita. Melalui soal tersebut, aspek nalar, numerik, dan literasi peserta akan dinilai. Selain berperan dalam pemetaan sekolah, hasil penilaian AKM juga dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah.

 

Apakah AKM menentukan nilai rapor?

Munculnya AKM sebagai pengganti Ujian Nasional membuat banyak orang bertanya-tanya mengenai sistem penilaian ini. Khususnya mengenai dampak AKM terhadap nilai rapor atau kelulusan siswa. Sejalan dengan hal tersebut, mulai bermunculan banyak bimbel dan buku AKM untuk membantu siswa belajar dan lulus tes AKM.

Meski AKM berperan sebagai pengganti Ujian Nasional, namun sistem keduanya sangat berbeda. Hasil tes AKM tidak memberikan nilai kepada siswa secara individual. Selain itu, hasil tes AKM juga tidak mempengaruhi nilai rapor, kelulusan, atau menjadi syarat melanjutkan jenjang pendidikan.

Sehingga siswa dapat belajar lebih tenang. Sementara guru dan orang tua tidak perlu merasa khawatir dengan dampak nilai AKM terhadap siswa.

 

Apakah AKM wajib untuk semua murid?

Tidak semua siswa wajib mengikuti AKM. Di samping itu, peserta AKM pun bukan hanya siswa sekolah saja. Berikut ini adalah kriteria peserta yang akan mengikuti Asesmen Nasional:

1. Seluruh Satuan Pendidikan yang Dikelola PKBM

Asesmen Nasional diikuti seluruh satuan pendidikan atau sekolah yang dikelola oleh PKBM. Termasuk sekolah tingkat dasar, sekolah tingkat menengah, dan program kesetaraan seperti paket A, B, dan C.

2. Peserta Didik atau Siswa Sekolah

Pemerintah akan melakukan pemilihan secara acak dengan mempertimbangkan faktor sosial ekonomi siswa. Sekolah tidak diizinkan untuk mengubah daftar siswa peserta AKM karena dapat mempengaruhi hasil AKM. Peserta yang dipilih untuk mengikuti AKM sekolah dasar adalah siswa SD kelas 5, siswa SMP kelas 8, dan siswa SMA kelas 11.

BACA JUGA:Guru Wajib Tahu, 6 Cara Mengembangkan Growth Mindset

3. Peserta Program Kesetaraan

Peserta AKM dari program kesetaraan adalah seluruh siswa yang berada pada tahap akhir program belajar. Agar siswa lebih santai dalam mengerjakan soal AKM, biasanya siswa program kesetaraan akan melakukan latihan soal menggunakan buku AKM SMP.

4. Guru dan Kepala Sekolah

Selain diikuti oleh siswa, AKM juga diikuti oleh guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan atau sekolah. Soal AKM kepala sekolah dan guru nantinya akan berbeda dengan soal AKM siswa.

 

Bagaimana Mempersiapkan AKM?

Secara materi yang diuji, AKM dan Ujian Nasional memiliki banyak perbedaan. Karena itu, persiapan AKM tentu saja akan berbeda dengan persiapan UN. Berikut ini adalah beberapa persiapan yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan AKM:

1. Jaga Kesehatan Fisik dan Mental

Asesmen Nasional lebih berfokus pada pemahaman literasi dan numerasi siswa. Di samping itu, dibutuhkan kemampuan analisis yang baik pula. Karena itu, menjaga kesehatan fisik dan mental adalah hal yang utama. Misalnya dengan mengkonsumsi makanan sehat dan beristirahat cukup.

2. Rajin Mengulang Pelajaran

Soal asesmen membutuhkan pemahaman yang baik mengenai materi yang dipelajari. Karena itu, penting bagi siswa untuk mengulang pelajaran secara rutin.

Siswa dapat mengulang pelajaran menggunakan buku referensi, rangkuman, atau mengerjakan soal dari buku AKM kelas 5, kelas 8, atau kelas 11 sesuai jenjang pendidikan. Pastikan mata pelajaran yang diulang berbeda-beda setiap hari.

3. Ikuti Simulasi AKM

Mengikuti try out atau simulasi AKM dapat membantu siswa untuk terbiasa dengan jenis-jenis soal AKM. Dengan mengikuti simulasi, siswa untuk lebih tenang saat menjalani asesmen nantinya. Selain simulasi online, belajar menggunakan buku AKM adalah cara yang juga layak untuk dicoba.

 

Nah, itulah beberapa hal mengenai AKM yang perlu Anda ketahui. Bagi banyak orang, sistem AKM ini memang masih terbilang baru. Sehingga, tidak ada salahnya untuk mempelajari dan mencari tahu tentang AKM lebih jauh. Misalnya melalui buku AKM, artikel, pelatihan, atau seminar yang membahas AKM.

 

Yuk coba platform pijar sekolah untuk membantu kamu dalam menerapkan AKM di sekolahmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *